Siapakah Mereka, Teman Apa Musuhmu?

 Siapakah Mereka, Teman Apa Musuhmu?

Betul, yang kamu maksud itu versi Hasan al-Banna dalam kerangka pemetaan umat manusia untuk strategi pergerakan Islam, bukan sekadar tipologi psikologis atau tingkat iman.
Dalam risalahnya, beliau membagi manusia ke 6 golongan seperti ini:


  1. Muslim Pejuang (المسلم المجاهد)

    • Muslim yang aktif membela Islam dengan jiwa, harta, dan waktunya.

    • Mereka adalah inti pasukan dakwah dan benteng umat.

  2. Muslim yang Duduk-duduk (المسلم القاعد)

    • Muslim yang beriman tapi pasif, tidak terlibat perjuangan secara langsung.

    • Perlu digugah agar bergabung dalam kerja nyata.

  3. Muslim Pendosa (المسلم العاصي)

    • Muslim yang terang-terangan melanggar syariat, tapi masih mengakui kebenaran Islam.

    • Dakwahnya melalui taubat, nasihat, dan pembinaan iman.

  4. Dzimmi / Mu‘āhid (الذمي أو المعاهد)

    • Non-Muslim yang hidup di bawah naungan negara Islam dengan perjanjian damai atau perjanjian khusus.

    • Dilindungi haknya, diperlakukan adil.

  5. Muhāyad (المحايد)

    • Non-Muslim yang berada di luar negara Islam tetapi bersikap netral atau tidak terlibat permusuhan.

    • Dipertahankan hubungan baik dan dakwah secara damai.

  6. Muhārib (المحارب)

    • Non-Muslim yang memerangi Islam atau umat Islam secara langsung.

    • Dihadapi dengan kekuatan dan strategi militer/politik sesuai syariat.


Kalau mau, aku bisa bikin matriks strategi gerakan yang menunjukkan cara Hasan al-Banna memperlakukan tiap golongan ini — dari dakwah, pembinaan, diplomasi, sampai konfrontasi.
Itu akan kelihatan banget bedanya pendekatan untuk "muslim duduk-duduk" vs "muharib".

Oke, berarti kita bikin tabel komprehensif 6 golongan manusia versi Hasan al-Banna berikut dasar Qur’an, hadits, dan contoh penerapan historis mulai dari Nabi ﷺ, sahabat, tabi‘in, tabi‘ut tabi‘in, sampai ulama salaf & khalaf.


Peta 6 Golongan & Dasar Perlakuannya

Golongan Dasar Qur’an Dasar Hadits Contoh Sirah Nabi ﷺ Contoh Sahabat Contoh Tabi‘in / Tabi‘ut Tabi‘in Contoh Ulama Salaf & Khalaf
1. Muslim Pejuang (المسلم المجاهد) QS Al-Hujurāt:15 — “Sesungguhnya orang beriman itu hanyalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa.” “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani) dan “Siapa mati tanpa pernah berperang atau berniat perang, mati dalam cabang kemunafikan.” (HR. Muslim) Perang Badar: Nabi ﷺ memimpin langsung kaum muslimin yang siap berkorban. Khalid bin Walid dalam Yarmuk & Mu’tah. Sa‘id bin Jubair menentang kezhaliman Hajjaj bin Yusuf. Imam Ibn Taymiyyah memimpin umat melawan Mongol di Syam.
2. Muslim Duduk-duduk (المسلم القاعد) QS At-Taubah:91 — “Tidak ada dosa bagi orang yang lemah, sakit, atau tidak mendapat bekal, apabila mereka tulus kepada Allah dan Rasul-Nya.” Tapi QS An-Nisā’:95 menegaskan keutamaan mujahid atas yang duduk-duduk. “Barang siapa yang bangun pagi tidak memikirkan urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Thabrani) Peristiwa Tabuk: sebagian sahabat tidak ikut, ditegur tapi dimaafkan setelah taubat (Ka‘ab bin Malik dan dua sahabat lainnya). Abu Darda’ yang lebih fokus mengajar di Madinah, tapi tetap mendukung perjuangan. Hasan al-Bashri mengingatkan umat agar tidak hanya beribadah ritual tanpa kontribusi sosial. Syekh Ahmad Yasin (HAMAS) memotivasi rakyat Palestina yang pasif untuk terlibat.
3. Muslim Pendosa (المسلم العاصي) QS Az-Zumar:53 — “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah…” “Setiap anak Adam pasti banyak berbuat dosa, dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi) Perempuan Ghamidiyah yang berzina datang meminta dihukum; Nabi ﷺ menunda eksekusi sampai melahirkan, menunjukkan rahmat. Umar bin Khattab menegur keras tapi juga memaafkan sahabat yang mabuk sebelum hukum khamar turun. Fudhayl bin ‘Iyadh — mantan perampok yang jadi ulama besar. Imam Al-Ghazali menulis Ihya’ untuk menghidupkan iman orang yang lalai.
4. Dzimmi / Mu‘āhid (الذمي أو المعاهد) QS At-Taubah:4 — “Kecuali orang-orang musyrik yang kalian telah mengikat perjanjian dengan mereka dan mereka tidak menguranginya…” “Siapa membunuh mu‘āhid, ia tidak akan mencium bau surga.” (HR. Bukhari) Nabi ﷺ melindungi Yahudi Madinah dengan Piagam Madinah selama mereka setia. Umar bin Khattab melindungi harta dan tempat ibadah Nasrani di Yerusalem. Umar bin Abdul Aziz menegakkan keadilan untuk semua warga, termasuk non-Muslim. Sultan Muhammad al-Fatih menjamin kebebasan ibadah penduduk Konstantinopel yang tunduk.
5. Muhāyad (المحايد) QS Al-Mumtahanah:8 — “Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian…” Nabi ﷺ memuliakan utusan non-Muslim dan menerima hadiah mereka. Nabi ﷺ menerima perlindungan dari Muth‘im bin ‘Adi (non-Muslim) saat pulang dari Thaif. Abu Bakr bertransaksi dengan pedagang kafir Quraisy yang netral. Hasan al-Bashri menasihati umat untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga non-Muslim yang damai. Syekh Yusuf al-Qaradawi menyeru kerjasama internasional yang adil dengan bangsa non-Muslim yang netral.
6. Muhārib (المحارب) QS Al-Baqarah:190 — “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi jangan melampaui batas.” “Perangilah musuh-musuh Allah…” (HR. Muslim) Nabi ﷺ melawan Quraisy di Badar, Uhud, Khandaq. Khalid bin Walid melawan Romawi & Persia yang menyerang wilayah Islam. Muhammad bin Qasim menaklukkan Sind untuk melindungi umat Islam yang diserang. Panglima Shalahuddin al-Ayyubi memerangi pasukan Salib yang menyerang.

Kalau mau, aku bisa bikin versi infografis atau bagan strategi untuk tiap golongan ini, lengkap dengan alur “apa yang harus dilakukan” sesuai pendekatan Qur’an, hadits, dan sejarah — biar lebih gampang dipakai untuk dakwah atau materi tarbiyah.
Ini bakal rapi, ringkas, tapi tetap powerful.

Komentar